Sabtu, 03 April 2010

Belajar Untuk Berhenti Memaksa

Tadi, Sabtu, 3 April 2010.
Aku dengan segala kata2 sedikit memaksa, mengharap kamu tidak pulang. Aku tidak mau mengerti kenapa, yang aku fikirkan hanya pada pagi itu aku ingin bertemu lama. Kita masih bicara panjang lebar, bersenang-senang, berpeluk erat, tanpa ada yang lain yang kita fikirkan.
Pukul setengah 8 lewat *menuju pukul 8* setelah makan-makan, kamu terima telfon, orang di seberang sana meminta kamu pulang. Dengan sigap, buru-buru kamu pulang. Ada SMS masuk, aku tanya apa tidak di jawab, kamu hanya bilang 'nanti aku kasih kabar...'.
Aku tidak tenang, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Aku bingung dan panik sendiri selama menunggu kabar kamu. 

Jam 10.02 malam.
Ditengah kesibukan ku tweeting sama @vannyraissa handphone berbunyi, SMS masuk.
Kamu SMS...
Aku buka SMS tanpa menduga isinya akan se-emosional itu...
'Aku cm mhon bgt doa sm kamu buat satu orang, aku udh jd anak durhaka, mamaku pergi yang'
Tidak bohong, aku lemas, tidak sadar air mata jatuh. Hal pertama yang aku sesalkan cuma satu 'Kenapa aku harus maksa kamu nginep aja di Depok?'.
Aku merasa sangat bodoh.


For My Lovely, Affan...
Aku minta maaf, sejuta maaf.. Semestinya aku ga perlu maksa kamu buat nginep di Depok, tanpa aku tau yang kamu rasain... Seandainya kamu bilang kalo kamu kangen mama, sumpah aku ga akan maksa kamu nginep. Aku nyesel, yang. Aku bener-bener pengen waktu di ulang lagi. Paling ga kamu bisa ketemu mama lebih lama. Aku minta maaf, Sayang... Aku minta maaf... Kalo aku tau yang akan terjadi, SUMPAH AKU GA MAU MAKSA KAMU...




Ga kerasa, dari kemarin full satu minggu kita sama-sama, tanpa ada rasa yang aneh sedikitpun, kita ketawa-tawa.. Kita bercanda, kita iseng-isengan bareng, kita masih bicara tentang hal yang paling kita benci, kita masih nonton film bareng, kita masih bicara sayang... Tapi malam ini, sesuatu yang tidak pernah kita harapkan terjadi. Aku cuma ngerasa bersalah karena ngelarang kamu pulang.
Aku bingung harus gimana... Aku janji, aku akan belajar untuk berhenti memaksakan kemau-an aku...

SATU HAL... AKU GA AKAN KEMANA-MANA....

Ikhlas ya, Affan...
I love you ;*

Senin, 29 Maret 2010

Saya Bangga Menjadi 'Saya'

Hidup semua orang sudah di gariskan sesuai kemampuannya. Allah tidak mungkin memberikan segala sesuatu yang berlebihan jika kita tidak mampu menanganinya sendiri dengan baik.

Saya, hidup di dunia ini juga tidak selalu dengan nasib baik. Kadang ada permasalahan buruk yang datang tiba-tiba tanpa saya sadari.
Kadang ada banyak hal buruk yang datang, tapi kita menganggapnya itu hanya cobaan, atau malah itu adalah cobaan terburuk yang pernah ada. Tapi sekali lagi yang harus di ingat, Allah tidak mungkin memberi sesuatu yang berlebihan.

Semua yang terjadi menyimpan makna tersendiri, tergantung bagaimana kita menjalaninya dan menyelesaikannya. Ketika kita bisa menyelesaikan dengan ikhlas dan baik, kita pasti menemukan makna yang baik dari masalah-masalah itu.

Saya dengan segala permasalahan kesusahan atau kebaikan dalam hidup saya.
Saya menjalaninya dengan ikhlas, santai dan bahagia. Lalu bisa dengan mudah melupakannya dan mencoba mencari petualangan hidup yang baru.

Saya bangga menjadi diri saya sendiri. Tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.Saya bisa senang dan sedih sendiri. Saya bisa menghadapi segala keburukan sendiri, tapi saya berbagi ketika merasakan kesenangan untuk orang-orang di sekitar saya.

Tidak panik ketika ada berita buruk tentang saya, tidak terlalu senang jika ada kabar baik mengenai saya. Hadapi biasa saja, jalani dengan logika. Tidak perlu banyak bicara, cukup berbuat yang mau kita perbuat, yang baik untuk kita lakukan, yang tidak merugikan orang lain.
Saya mencoba untuk tidak berfikir licik dari penjilat-penjilat yang ada, saya mencoba untuk tidak meng-copy wajah saya agar bisa saya pamerkan di hadapan banyak orang.

Saya bangga menjadi saya sendiri, karena dalam 'saya', saya menemukan banyak kejutan di tiap hari-nya

Senin, 08 Maret 2010

'Hukum Balik'

Mama : 'kamu lebih baik tidak berteman dengannya'

Ghe : 'kenapa?'

Mama : ' dia tidak sepadan sama kita, bukan level kita lah'

Ghe : 'tapi aku nyaman berteman dengannya, dia baik... Sangat baik'

Mama : 'tidak mau dengar alasan apa pun. Dia tidak ada baiknya sedikitpun !'

Ghe : '......'



***



Mama : 'siapa yang antar kau pulang?'

Ghe : 'teman...'

Mama : 'ya siapa? Sering sekali sekarang kau di antar teman mu pulang, terlalu baik'

Ghe : 'kenapa di larang? Toh dia juga tidak keberatan sedikitpun mengantarku pulang ke rumah dengan selamat.'

Mama : 'paling temanmu yang bukan satu derajat dengan kita'

Ghe : 'kenapa menilai sebelum mengetahui medan?'

Mama : 'feeling orang tua itu benar'

Ghe : 'bukan berati benar sebelum mengetahui medannya dalam jangka waktu lama kan?'

Mama : 'terserah katamu, aku tidak menyukainya'



***



Mama : 'Kenapa kau lama tidak menjumpai kekasihmu, Leo?'

Leo : 'ibu nya tidak suka padaku, katanya kami tidak satu derajat'

Mama : '.........' (menangis)



****


Dari apa yang anda baca di atas, sedikit kisah tentang.. Ya mungkin sesuatu yang bisa di bilang 'hukum balik'.
Kadang begini, kita mencoba untuk melarang sesuatu yang tidak kita sukai, dengan tujuan yang (mungkin) baik bagi kita, tanpa mengetahui apakah itu benar-benar baik. Ketika kita melakukan segala hal, menunjukan wajah tidak senang wajah hanya di bicarakan sedikit perihal itu, atau sampai murka ketika mendengar sesuatu yang tidak kita sukai itu. Di saat itu juga kita mungkin akan merasakan 'tamparan balik' untuk 'sekedar' mengingatkan bahwa cara yang kita lakukan (mungkin) salah.

Setiap orang hidup dan berkehidupan di dunia ini dengan dirinya, dan orang lain yang ada di sekelilingnya. Kenapa kita mencurigai orang-orang tertentu -yang mungkin tidak kita ketahui bagaimana dia-, bahwa orang-orang itu bukan orang yang baik ? Padahal mungkin saja, kita atau kerabat kita sebenarnya sangat membutuhkan orang-orang itu.

Pikir, semua yang kita larang, belum tentu itu membahayakan orang lain. Beri kesempatan orang lain untuk apapun, selama ia tidak merugikan. Karena kita sendiri tidak akan mau ada di posisi 'tidak mempunyai kesempatan'.

Kamis, 18 Februari 2010

Surat Untukmu, Wahai Sahabat......

Untuk sahabatku tercinta,

Aku dengar berita tentang mu, tentang satu masalah terbesarmu. Aku harap yang aku dengar darimu adalah jawaban 'berita itu tidaklah benar'.
Tapi jika memang itu benar terjadi, sungguh aku turut prihatin, aku ikut merasakan kesulitanmu.
Kamu yang berjuang demi mendapatkannya, kini harus kehilangan dengan cara yang mungkin menurutmu tidak setimpal beratnya dengan cara kamu mendapatkannya. Sabar, sahabat...Itu cobaan mu, karena kita hidup dengan berbagai masalah yang belum tentu juga kita kuat menghadapinya.
Sabar sahabat, semoga ujian ini tidaklah nyata untukmu.

Ketika aku dengar berita itu, hatiku bagai tersayat juga, tidak terbayang rasanya jadi kamu yang mengalami sendiri. Ingin cepat bertemu untuk berbagi. Tentang kesulitanmu, lalu ku bantu semampuku...
Aku bukan siapa2 yang bisa membantu semua kesulitan mu dengan mulus, aku pasti berusaha, seperti usahamu mengembalikan kemampuan mu berdiri.

Teman, semua masalah ini jangan kau jadikan keterpurukan terdalam, kamu, aku dan yang lain tidak berjalan sendiri2. Kita akan saling membantu untuk berdiri tegak. Tenang, teman... Hidup ini berputar, cepat putar kembali rodanya agar kamu tidak terlalu lama di bawah...
Atur hidup kita, pilih yang terbaik, karena hanya kita sendiri yang tau apa yang terbaik...

Dengan berat masalahmu, aku terharu, sangat ingin kubantu... Sabar kawan, KAU PASTI BISA !

Minggu, 07 Februari 2010

Chanessa.....

Chanessa : "Aku bukan apa-apa. Melainkan bagai debu yang kapan saja akan terbang tertiup angin"

***

Minggu

Dev : "Tolong bantu aku ini !"
*Tidak berapa lama
Dev : "Sekarang bersihkan yang ini !"
*Chanessa berkata iya
*Setengah jam kemudian
Chanessa : "Boleh aku keluar sebentar?"
Dev : "Untuk apa? Tidak ada kesenangan di luar sana! Diamlah di sini, banyak urusan esok hari"
*Chanessa diam, memendam.

***

Senin

Dev : "Kau harus menyelesaikan semua tugasmu, lalu ikut aku!"
*Chanessa lagi-lagi diam
*Tiga jam kemudian, mereka keluar, lalu pulang larut malam

***

Selasa

Dev : "Selesaikan yang ini !"
Chanessa : "bukan aku yang membuatnya sekotor ini! Aku tidak kesini sebelumnya!"
Dev : "Ini tugasmu, bukan yang lain!"
*Untuk kesekaian kalinya Chanessa memendam
*Semua terjadi berulang kali, tidak henti, tidak berbalik baik

***

Rabu

Chanessa : "Aku harus keluar, ada sambutan meriah!"
Dev : "Tidak perlu, sambutan itu bukan untukmu"
*tidak terkira
Leo : "Dev, aku akan pergi...Jaga rumah!"
Dev : "Baiklah"
*Chanessa dalam hati : 'Yaa selalu...'

***

Kamis

Chanessa : "Apa yang harus aku lakukan hari ini?"
Dev : "Lakukan semua seperti biasa! Tugas mu!"
Chanessa : "Siapa aku sebenarnya ?"
Dev : "Kau pesuruh ku"
Chanessa : "Pembantu maksudmu ?"
Dev : "Sama sekali bukan..."
Chanessa : "Lalu ?"
Dev : "Hentikan pertanyaanmu!"
*Dev mulai marah
Chanessa : "Aku punya dunia sendiri, kenapa selalu di usik untuk keperluan 'rapi-merapi-kan' mu?"
Dev : "Kau numpang hidup di sini!"

*Chanessa berlari ke arah dapur, mengambil pisau daging paling besar yang ada di rumah itu. Lalu kembali lagi ke hadapan Dev

Dev : "Apa yang akan kamu lakukan ?"
*Dev heran
Chanessa : "Aku bukan apa-apa. Melainkan bagai debu yang kapan saja akan terbang tertiup angin"
*menggorok lehernya sendiri
Dev : "..............................................."

*****


Siapa Chanessa ?
Kenapa Chanessa ?
Untuk apa Chanessa ?