Selasa, 20 Oktober 2009

Update Facebook....

Nasehat yang sangat luar biasa.
Sungguh nasehat Ibnul Qayyim berikut bisa pula sebagai renungan:

“Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” (Al Jawabul Kafi, 109)



Ketika perpecahan keluarga menjadi tontonan yang ditunggu dalam sebuah episode infotainment setiap hari.

Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa .

Ketika seorang celebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasei yang ditunggu-tunggu ...’siapa calon bapak si jabang bayi?’

Ada khabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang celebrities yang belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya.

Wuiih......mungkin kita bisa berkata ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi.Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.

Wuiiih...... ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan orang sekarang sedang menikmati aktivitasnya apapun diketahui orang, dikomentarin orang bahkan mohon maaf ....’dilecehkan’ orang, dan herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan.



Fenomena itu bernama facebook, setiap saat para facebooker meng update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya. Lihat saja beberapa status facebook :

Seorang wanita menuliskan “Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya.....?”---- --kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan “mau ditemanin? Dijamin puas deh...”



Seorang wanita lainnya menuliskan “ Bangun tidur, badan sakit semua, biasa....habis malam jumat ya begini...:” kemudian komen2 nakal bermunculan. ..



Ada yang menulis “ bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi....”, ----kemudian komen2 pelecehan bermunculan.



Ada pula yang komen di wall temannya “ eeeh ini si anu ya ...., yang dulu dekat dengan si itu khan? Aduuh dicariin tuh sama si itu....” ----lupa klu si anu sudah punya suami dan anak-anak yang manis.



Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya “habis minum jamu nih...., ada yang mau menerima tantangan ?’----langsung berpuluh2 komen datang.



Ada yang hanya menuliskan, “lagi bokek, kagak punya duit...”



Ada juga yang nulis “ mau tidur nih, panas banget...bakal tidur pake dalaman lagi nih” .



Dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada komen-komen dari lainnya.




Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.

Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitifitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.


Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru sj di upload di albumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah raga memakai kaos dan celana pendek.....padahal sebagian besar yg didalam foto tersebut sudah berjilbab



Ada seorang karyawati mengupload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan dengan ceria....



Ada pula seorang pria meng upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang.





Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah...., yaitu Muhammad SAW, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah r.ha

“ Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?” maka Istri tercinta, sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab “ Rasul, kekasih hatiku, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasul dengan senyum teduhnya berkata “baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini”. Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah rasulullah.. ..



Ingatlah Abdurahman bin Auf r.a mengikuti Rasulullah berhijrah dari mekah ke madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya,

maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukan saja saya pasar. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah, bersabda, “Malu itu sebahagian dari iman”. (Bukhari dan Muslim).



Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita umat Islam, hegemoni ‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’ ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga.

Dan Rasulullah SAW menegaskan dengan sindiran keras kepada kita

“Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Bukhari).



Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa merasa bersalah mengungkit kembali aib-aib masa lalu melalui foto-foto yang tidak bermartabat yang semestinya dibuang saja atau disimpan rapat.

Bagi mereka para wanita yang menemukan jati dirinya, dibukakan cahayanya oleh Allah sehingga saat di masa lalu jauh dari Allah kemudian ter inqilabiyah – tershibghoh, tercelup dan terwarnai cahaya ilahiyah, hatinya teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh senyuman, oleh orang yang mengaku sebagai teman, sebagai sahabat.

Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu, mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.

Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’, ‘gurauan’ membuat Iffah kita luntur tak berbekas.

Insya Allah bermanfaat..

Rabu, 14 Oktober 2009

Don't Jugde A Book From It Cover....

Tadi gue bercerita dengan seorang teman melalui telefon… Dari sekian lama kita bicara entah kenapa hanya ada sedikit kesimpulan yang gue dapat.
Pembicaraan itu hanya bermakna “Don’t judge a book from it cover”. Standar? Ya memang. Tapi emang itu kenyataannya… Hahahaha…
Gue kadang mikir, kenapa semua orang cuma bisa menilai orang dari sisi yang bisa diliat. Lalu lebih sering bicara dari apa yang terlihat buruk. Yang mendengar pun akan lebih semangat kalo yang di bahas itu tidak jauh dari sesuatu yang negatif.
Kenapa gitu ? Apa itu tabiat kita sebagai manusia ?
Ya, manusia itu makhluk yang tidak pernah puas. Kepuasannya itu cuma ada kalau dia ngeliat orang lain lebih BURUK dari pada dia.
Setiap orang memang pengen terlihat baik dihadapan orang lain, dari alas an itu semua orang akan lebih sering mempercantik fisik menjaga kelakuan, dan semua PALSU ! Totally fake !
Ambil contoh gini.
Semua orang akan selalu tertarik sama sesuatu yang baik. Gitu juga cara mereka mencari pasangan. Good looking is a must !! Orang akan berfikir kalo dia punya pacar yang ganteng atau cantik, orang lain akan bilang sesuatu yang membuatnya melayang tinggi, “Eh, pacar lo cantik/ganteng banget deh, gue iri banget sama lo”. Cuma karena satu kalimat itu, lo akan bawa pacar lo kemanapun lo pergi. Walaupun tingkahnya ga sebaik penampilannya. Walaupun sifatnya ga seindah pakaiannya. Walaupun ‘manisnya’ tidak semanis auranya.
Wajah orang yang cela ga mungkin lo bawa-bawa kemana-mana. Gitu juga seharusnya orang dengan sifat yang cela. Buat apa bawa-bawa orang dengan penampilan plus tapi kelakuan minus kemana-mana ? Buat apa bawa orang dengan pakaian minus dan kelakuan minus kemana-mana ?
Akan di anggap keren kah setelah ngelakuin itu semua ? Akan di anggap bagus kah setelah mendapat orang yang baik di luar ?
Hidup itu opera sabun. Hampir semua orang bersandiwara di dalamnya. Hampir semua orang ‘bertopeng’ untuk menjaga namanya.
Banyak orang yang tercela tapi namanya tetap di jalan yang lurus. Itu karena kuatnya ‘topeng’ yang dia pakai.
Kita ga perlu mencoba memberi pendapat tentang apa yang ada pada orang lain. Sadarkah kita saat itu kita sedang membicarakan kejelekan kita sendiri ?
Ya, itu memang sulit, sampai saat ini penulis (saya) juga belum bisa bersikap apa adanya saat melihat orang lain. Itu hal yang menurut manusia lumrah, tapi efek yang tidak terlihat sangat lah besar. Kadang kita ga akan pernah mikir apa yang orang lain fikirkan tentang kita.
Kita boleh bicara tentang keburukan orang lain dan meninggikan diri kita sendiri di depan orang lain. Tapi pada suatu saat yang tidak akan kita duga, kita akan jatuh karena pendapat orang lain tentang kita. Akan lebih sakit, karena itu semua terjadi setelah kita ‘menari’ di atas kejelekan orang lain. Yang mana artinya kira-kira begini : “Kita menari di atas kejelekan orang lain dan kita ‘berdansa romantis’ di atas kejelekan kita”.
Bagaimana menurut kalian ?
Ada yang tidak sependapat ? Itu terserah, yang gue tulis disini bukan maksud mengajak, gue cuma mengeluarkan apa yang gue pengen ungkapin. Kalo ada yang ga setuju silahkan berhenti membaca.

Kita…
Kenapa kita mudah sekali percaya omongan orang ? Apa yang menarik dari omongan orang. Orang-orang akan bicara semaunya. Se-apa yang dia temui di pengelihatannya. Kita sangat muda di rusak orang lain dan diri kita sendiri. Itu kita. Tidak bisa menghagai orang lain sebaik-baiknya. Kenapa ?
Tidak ada yang pernah menjawab itu.
Kita sebagai manusia,ada baiknya diam untuk menang. Bukannya tidak untuk ‘berhenti’. Berhenti membicarakan apa yang tidak sepantasnya kita bicarakan.
Itu baru lebih enak di bawa kemanapun kita pergi…

Senin, 21 September 2009

Sastra mulai membuat saya GILA !

Ya.. Gila !
Itu kata2 yang tepat buat gue...
Bukan, bukan karena mata kuliahnya.. Bukan juga karena fakultasnya... Ini terjadi karena temen2 baru gue !
Hahahahaha
Gue, Icha, Ncel, Vanny, Widi !
5 orang paling geblek di 1SA01 !
hahahahahahahahahahahaha.....
Icha dan gue berangkat tiap pagi bareng2 naek motor... Ncel yang rumahnya di Bogor, ngerasa CINTANYA BERAT DI ONGKOS, eh dia juga RATU SALSA DEPOK hahahaha.... Vanny ga ada masalah, rumahnya deket dari kampus E dan G. Widi anak Surabaya yang ngerantau, dan kostannya jadi kapal pecah tiap kita dateng.
Asik2 aja maen sama mereka, tau kenapa, 1st thing that make me enjoy with them is 'THEY ARENT SUCH A RIBET PERSON!'
hehehe...
Semoga di kita ga ada yang aneh2 ya teman baru....
4 tahun bareng terus dong, sekelas terus...
Biar makin gila sambil belajar PRONUNCIATION !
Mantaaab !
hahahaha


Play with them, will never change Belle and Tongge's place in my life



:)

DIA !

Ada pengalaman aneh tentang seorang wanita. Susah di paparkan di media. Bagaimana rupanya, bagaimana kelakuannya, cuma saya yang tau..
Dia sosok yang hanya ingin di kenal tanpa mau di masuki kehidupan SOSIAL nya...
Ya, wanita itu aneh...

Kamis, 10 September 2009

Memaksa Ketika Hati Bicara

Ketika kita mencoba untuk berjalan di suatu garis, dimana kita bercita2 meraih objek,tidak akan pernah terfikir di fikiran kita untuk berhenti di tengah jalan. Tidak akan ada harapan yang musnah di saat kita sedang melambung tinggi mencari objek itu, dan menentukan saat2 yang kita inginkan dengan objek itu...
Kita punya besarnya semangat yang mampu memberikan dorongan dan harapan yang luas demi mendapatkan apa pun yang kita inginkan.. Mungkin hanya beberapa orang yang baru merasakan hal ini. Tapi ga ada salahnya kita selalu mencoba untuk mendorong diri kita sendiri dalam mencapai objek tersebut.

Kenapa juga harus menyerah kalau kita bisa ?
Kenapa juga harus berhenti ketika kita masih kuat berlari ?
Kenapa kita harus diam ketika masih kuat berteriak ?


Kita tidak akan pernah menemukan orang yang diam saat energinya 100%.
Kita juga tidak akan pernah mendengar orang yang memiliki suara lantang, berbisik pelan.
Karena bukan kita yang selalu merasa lelah saat tenaga terkumpul untuk tiga bulan ke depan.

Setiap orang akan memilih jalannya masih2, apa pun itu. Tapi kita...
Kita masih punya banyak cara untuk membiarkan objek itu mengikuti kita, tanpa memaksa dengan kekerasan, tanpa memaksa dengan tarikan, tanpa memaksa dengan mencaci, tanpa memaksa dengan berlari, tanpa memaksa dengan berteriak, dan tanpa memaksa dengan rayuan...


Aku ingin memaksa semua nya dengan hati.....